Powered By Blogger

Jumat, 27 Agustus 2010

Legenda Metropole atau Megaria


Jejak sejarah terkisah di sebuah bangunan kuno yang terletak di Jalan Diponogoro, Jakarta Pusat ini. Berbeda dengan bangunan bersejarah lainnya, bangunan ini memang mengkhususkan untuk tempat khusus pertunjukan film.

Bioskop Megaria yang sekarang ini kembali berganti menggunakan nama lamanya, Metropole.

Gedung ini mulai dibangun pada 11 Agustus 1949 dan rampung sekaligus mulai dioperasikan sebagai bioskop yang diberi nama Metropole pada tahun 1951.

Menurut keterangan pedagang majalah yang sudah berjualan sejak tahun 1965, Hairul Salam, 50 tahun, sejak dibangun tempat ini langsung digunakan untuk bioskop. "Tidak ada bentuk bangunan yang berubah sampai sekarang," katanya.

Bangunan cukup monumental berarsitektur paduan gaya Art-Deco Tropis dan De Stijl dengan menara lancipnya yang khas ini berada di lokasi yang sangat strategis di sudut persimpangan dua jalan yang cukup ramai, yakni antara Jalan Cikini, Jalan Proklamasi (Pegangsaan Timur), dan Jalan Diponegoro yang kala itu bernama Oranje Boulevard.

Berdasarkan catatan sejarah, bioskop Megaria merupakan hasil rancangan Johannes Martinus (Han) Groenewegen, arsitek Belanda kelahiran Den Haag tahun 1888 yang tinggal di Jakarta sampai dengan akhir hayatnya hingga tahun 1980.

Saat-saat Metropole mulai beroperasi tahun 1951, bioskop ini memutar film produksi MGM (Metro Goldwyn Mayer), Amerika Serikat.

Meskipun demikian, sekali-kali memutar film Indonesia. "Waktu saya berjualan di sini namanya sudah diganti dari Metropole menjadi Megaria, konon diganti jadi Megaria karena, Bung Karno (Presiden pertama Indonesia) ketika itu tak suka pada nama berbau Belanda itu," ujarnya.

Setelah bergabung dengan kelompok bioskop 21 pada tahun 1990-an, namanya diganti lagi menjadi Metropole 21.

Akhirnya, sejak beberapa tahun silam, balik lagi memakai nama Megaria 21, dan tahun 2008 kembali lagi menjadi Metropole XXI.

Hairul mengatakan penggantian nama Metropole menjadi Megaria terjadi beberapa kali. Setelah menjadi Megaria, diganti lagi menjadi Metropole, tetapi ditetapkan menjadi Megaria pada tahun 1960-an, sampai akhirnya mengunakan nama semula menjadi Metropole XXI.

Pada dekade 1960 dan 1970-an, bioskop dengan kapasitas 1.500 penonton itu sempat menjadi salah satu yang terbaik dan bergengsi di Jakarta.

Namun, setelah ruang bioskop dipecah-pecah menjadi empat teater kecil ala sinepleks kelompok bioskop 21, pamor Megaria malah merosot dan cuma jadi tujuan penonton film kelas dua

Bagi Hairul, tidak ada perubahan mencolok ketika gedung bioskop sudah beberapa kali berganti nama. Hanya loket penjualan tiket yang dulu terletak di bagian luar kini menjadi tempat pijat refleksi.

Tempat penjualan tiket kini terletak di bagian dalam. Di samping kanan bioskop, yang dulu berupa toko-toko tekstil, kini diisi barber shop, pedagang empek-empek, wartel dan rumah makan ayam kambali.

Di sini juga terdapat kantor sekuriti Metropole, induk dari bioskop Megaria 21. Bagian belakang gedung bioskop, dekat tempat parkir kendaraan bermotor yang kini menjadi studio 5 dan 6, dimana dulunya adalah perumahan militer.


Di sebelahnya terdapat Hero Super Market. Menurut keterangan, pemilik gedung bioskop Megaria, pada tahun 1970-an dan 1980-an, juga membangun Bioskop New Garden Hall yang kini berubah menjadi pertokoan Blok M Plaza.

Gedung ini milik PT Bioskop Metropole, yang punya orang Semarang. Sampai sekarang pemiliknya masih sama.

Meskipun sudah banyak biskop yang lebih modern, tidak membuat biskop yang berlokasi di pertigaan jalan antara Jalan Diponegoro dan Jalan Cikini Raya itu sepi dari pengunjung.

Dinding-dinding bioskop yang menyejarah menjadi saksi bisu kenangan indah pencinta bioskop di masa lalu.

Pada 1993, Gubernur DKI Jakarta melalui SK No. 475 menyatakan Bioskop Metropole sebagai Bangunan Cagar Budaya Kelas A yang dilindungi dan tak boleh dibongkar.

Pada awal 2007, tersiar berita bahwa gedung bioskop ini akan dijual. Lahan dan bangunannya ditawarkan dengan harga Rp 15 juta per m² atau total sekitar Rp 151,099 miliar.

Namun hal itu tenyata tidak menjadi kenyataan, bioskop Metropole XXI hingga kini masih berdiri megah meskipun sudah mengalami sejumlah pembaharuan.

"Saat ini pengunjung memang tidak tahu nama Metropole, mereka pasti bilangnya Megaria, karena itu lebih populer," katanya.


Sumber: http://metro.vivanews.com/news/read/42421-reinkarnasi_metropole

Legenda Pasar Rumput

Perternakan Kuda Thn 1940 Di Menteng



Pasar Rumput merupakan sebutan nama pasar yang sekarang lokasinya berada di Jalan Sultan Agung Jakarta Selatan. Pasar ini sekarang telah menyatu dengan Pasar Manggarai.

Tapi jangan harap Anda bisa mencari rumput di pasar ini. Sebab, pasar ini memang tak lagi menjual rumput yang menjadi makanan kuda ketika masanya dulu.

Kini pasar ini menjual beraneka ragam barang mulai dari makanan pokok hingga elektronik. Namun yang paling terkenal dari pasar ini adalah pusat perdagangan barang bekas.

Lalu bagaimana kawasan ini disebut sebagai Pasar Rumput?

Kisah penyebutannya Pasar Rumput ini bermula ketika para pedagang pribumi menjual rumput dan sering mangkal di lokasi ini. Para pedagang rumput terpaksa mangkal di sini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman elit Menteng.

"Sekitar tahun 1950 banyak sekali warga Betawi di sini berjualan kuda, makanan kuda (rumput), gerobak kuda (delman)," kata Ridwan Hasan, 85 tahun, salah satu sesepuh Pasar Rumput saat berbincang dengan VIVAnews.

Ridwan menuturkan, saat itu masyarakat Menteng banyak yang memelihara kuda. Kuda sangat dikemal sebagai sarana angkutan yang banyak membawa penumpang orang kaya keluar masuk lingkungan Menteng.

Namun karena Menteng merupakan kawasan elit, membuat para pedagang rumput tidak bisa masuk untuk menjual dagangannya.

Akses berjualan rumput ke Menteng yang tertutup, membuat para pedagang terpaksa mencari sebuah tempat berjualan yang lokasi berdekatan dengan wilayah Menteng.

"Sejak itulah di sepanjang jalan Sultan Agung dipenuhi pedagang yang menjual rumput, kuda, dan gerobak," kata kakek yang sudah memiliki 6 cucu itu.


Kata pria yang lahir pada 1941 ini, "Setiap orang yang datang membeli pakanan kuda (rumput) di sini, kemudian menyebutnya Pasar Rumput," ungkapnya.

Bisnis rumput mengalami puncaknya pada tahun 1950-an. Sampai akhirnya sekitar tahun 1970-an para pedagang rumput mulai hilang satu persatu.

Namun mereka menghilang bukan karena adanya penggusuran atau penertiban."Pasar Rumput pada tahun 1980an sudah mulai lesu. Saat warga Menteng sudah mulai tidak memelihara kuda," imbuhnya.

Pedagang rumput kemudian hilang satu persatu setiap harinya. Bergantilah dengan pedagang barang bekas (loak) yang sebelumnya memang berjualan di pinggiran Sungai Ciliwung.

"Pedagang loak itu sudah ada sejak tahun 1960-an, tapi mereka mulai pindah berdagang ke Pasar Rumput ketika pedagang rumput gulung tikar," paparnya.

Bisnis barang bekas kian hari makin marak di Pasar Rumput hingga sekarang. Para pedagang umumnya menjajakan aneka sepeda, alat olahraga, dan mesin ketik bekas.

Pemandangan inilah yang terlihat jika melintas di jalan Sultan Agung, Manggarai.

Walaupun para pedagang rumput sudah tidak dapat ditemukan lagi di Pasar Rrumput, namun masyarakat Jakarta masih sangat akrab dengan sebutan nama Pasar Rumput.

"Kalau di Pasar Burung kita dapat membeli burung, di Pasar Buah kita dapat membeli buah, namun di Pasar Rumput yang ada hanya barang bekas," ujar Ridwan.

Sumber: http://metro.vivanews.com/news/read/28403-cerita_marjinalisasi_pedagang_rumput

Situ Gintung (Kisak Mistik Buaya Putih)


Tsunami kecil di pinggiran Ibu Kota itu melambungkan nama Situ Gintung. Kisah tragisnya menyedot ribuan orang untuk menyaksikan sisa keindahan.

Menempati lahan di Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, bendungan itu sudah ada sejak pemerintah kolonial. Baru sekitar tahun 1933, Belanda membangunnya sebagai tadah hujan untuk pengairan sawah.

Kala itu, luas situ mencapai 33 hektare dengan kapasitas tampungan air 2,1 juta meter kubik. Namun 76 tahun bertahan, luasnya susut menjadi 21 hektare.

Di sekeliling situ, sawah menghampar indah. Pepohonan rindang pun meneduhkan penghuninya. Sementara satu pulau mungil terpaku di tengah danau.

Sekitar tahun 1980, keindahan Situ Gintung mulai dilirik para pebisnis. Waduk tandon hujan itu digarap menjadi objek wisata alam. Berbagai fasilitas dibangun mulai dari restoran hingga sarana olahraga. "Banyak yang mancing di sini," kata Sa'amin Abdullah, 67, yang sudah 45 tahun bermukim di dekat situ.

Berbagai kegiatan massal pun acapkali digelar di Situ Gintung seperti lomba perkutut, dan lomba memancing. “Banyak juga masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup dari sana,” ujarnya.

Di balik daya tarik wisatanya, Situ Gintung ternyata menyimpan sejumlah misteri. Legenda buaya putih salah satunya. Konon, buaya itu adalah jelmaan nenek tua penjaga situ. Sesekali buaya itu muncul di tengah danau dan memangsa penduduk sekitar sebagai tumbal.

Misteri lain adalah kisah pulau mistis di tengah danau yang terkadang muncul, kadang hilang. Pulau itu, konon menjadi tempat tinggal sang penjaga situ. Jika melihat pulau itu, pengunjung bisa terhipnotis untuk menyeberangi danau dan tenggelam. “Pulau itu katanya sering mencari tumbal.”

Sejumlah kisah mistis itulah yang kemudian membuat banyak orang takut beraktivitas di tengah situ. Mereka khawatir akan celaka dan menjadi tumbal penjaga situ.

Pun tragedi jebolnya Situ Gintung. Sebagian warga yang percaya kisah mistis yakin 100 korban tewas dalam musibah malam buta itu menjadi tumbal penjaga situ.

Sumber: http://metro.vivanews.com/news/read/49496-buaya_putih__kisah_mistik_situ_gintung

Legenda Karet Tengsin


Rimbunan perkebunan karet seluas 300 hektar yang terhampar di jantung pusat kota Jakarta, terpaksa harus tergusur akibat perkembangan zaman ke arah modernisasi.

Pohon-pohon karet kini berganti wajah dengan gedung-gedung pencakar langit. Daerah yang dikenal dengan nama Karet Tengsing itu memiliki sejarah yang cukup panjang.

Menurut salah satu sesepuh Karet Tengsin, Husni MT, 60 tahun, asal mula nama daerah yang kini termasuk kawasan Segitiga Emas Kuningan, berasal dari nama orang China yang kaya raya dan baik hati.

Orang itu bernama Tan Tieng Shin. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Tieng Shin cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Tieng Shin.

"Karena orang pribumi susah nyebutnya jadi Tengsin saja," ujarnya kepada VIVAnews.

Memang pada waktu itu banyak pohon karet, Karet Tengsin dulunya adalah perkebunan karet milik etnis China Betawi bernama Tieng Shin. "Di sini dulunya hutan yang ditubuhi berbagai macam pohon. Salah satunya pohon karet. Hutan ini kemudian berubah menjadi perkebunan karet oleh Tieng Shin," ungkapnya.

Karena kekayaan yang berlimpah dan sikapnya yang dermawan membuat para pribumi banyak bekerja di perkebunan miliknya.

"Warga di sini dulunya hidup sejahtera, kita biasanya makan dari hasil hutan yang cukup berlimpah. Banyak sayur mayur yang tumbuh subur. Jadi tidak udah beli tinggal ambil saja," ujar Ketua RT 06 RW 02 Karet Tengsin ini.

Husni mengakui jika kakeknya Saidi merupakan teman akrab Tieng Shin. Tak hayal dirinya pun mengetahui sejarah tersebut. "Tieng Shin sudah berada di sini sejak 1890, dia memiliki rumah yang sekarang dibongkar menjadi Menara Batavia," tuturnya.

Perkebunan karet milik Tieng Shin akhirnya tergusur setelah dibangunnya Stadion Gelora Bung Karno. "Jalan KH Mas Mansyur dulunya kebun karet, tapi akhirnya ditebang untuk dijadikan jalan," kenangnya.

Kebun-kebun yang rindang dengan pohon karet akhirnya mulai menghilang, namun jejak keluarga Tieng Shin masih tetap bertahan meskipun tidak berlangsung lama.

"Pasca meninggalnya Tieng Shin, anak dan cucu masih menetap, tapi tidak lama. Sejak rumah mereka juga ikut tergusur, jejak itu sirna," katanya.

Husni mengaku sedih dengan kondisi Karet Tengsin saat ini. Warganya menjadi susah, lingkungan menjadi kumuh. Penduduk asli pun tak kuasa dengan adanya serangan dari gedung-gedung pencakar langit yang mulai menutupi rumahnya dari sinar matahari.

Satu persatu mereka mulai angkat kaki dari perkebunan karet itu.

Kali Krukrut yang melintasi perkebunan Karet Tengsin pun ikut terkena dari dampak modernisasi. "Dulu kalinya bening, kita masih suka mancing, mencuci, dan mandi. Tapi sekarang airnya kotor," ujarnya lirih.

Kini Karet Tengsin hanya sepenggal cerita massa lalu yang selalu terkenang dengan keindahan perkebunan karetnya. Karet Tengsin merupakan Kelurahan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Karet Tengsin memiliki 70 RT yang terangkum dalam 9 Rukun Warga. Jumlah warga Karet Tengsin hampir 15 ribu jiwa.

Mereka tinggal di atas lahan, termasuk lahan Pemakaman Karet Bivak yang terkenal itu seluas 153 hektar.

Sumber: http://metro.vivanews.com/news/read/69071-bermula_di_kebun_karet_saudagar_tiongkok